Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga Selepas Sholat Ied Dihadiri Ribuaan Warga Demak

Bupati Demak H Tafta Zani melaksanakan penjamasan dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, seusai melaksanakan Shalat Ied di Masjid Agung. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Onto Kusumo dan Keris Kyai Cerubuk. Konon Kutang Ontokusuma adalah berwujud ageman yang dikhiaskan sebagai pegangan santri yang dipakai Sunan Kalijaga setiap kali berdakwah

Sebelum rombongan kirab minyak jamas pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga, Bupati H Tafta Zani menyerahkan minyak jamas kepada Lurah Tamtama yang diperankan oleh Camat Demak Kota, Drs Edi Suntoro.
Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendapa Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan  “Manunggalekawulalangusti”, yang dibawakan oleh sembilan remaja putri, kemudian Lurah Tamtama membawa minyak jamas itu ke Kasepuhan ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu
Perjalanan minyak jamas dikawal bhayangkara Kerajaan Demak Bintoro prajurit patang puluhan yang berada di belakang kereta kuda pembawa jamas terlihat sangat gagah dan diiringi kesenian tradisional Demak,, di antaranya barongan serta kuda lumping.
Rombongan berjalan dari pendapa kabupaten sampai ke Sasana Rengga Nata Bratan tempat penyerahan minyak ke Kesepuhan Kadilangu. Minyak jamas diserahkan ke Perwakilan Kasepuhan ahli waris Sunan Kalijaga, terus dilanjutkan ke pemakaman Kadilangu untuk menjamas dua pusaka agung tersebut.
Sebelum penjamasan, sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga R Soedioko memimpin doa bersama. Bupati Demak, Pak Sepuh (R Soedioko) masuk ke cungkup makam Sunan Kalijaga dengan diikuti Muspida serta ahli waris lainnya. Di  dalam cungkup itulah penjamasan pusaka keris Kiai Cerubuk dan Kotang Ontakusumo dilakukan.
Menurut tradisi penjamasan dilakukan dengan mata tertutup,  konon jika penjamas melihat pusaka itu akan membuat mata Si Penjamas tak bias melihat lagi.  Penjamasan dengan mata tertutup mengandung makna  bahwa penjamasan tidak melihat dengan mata telanjang tetapi melihat dengan matahati. Artinya, ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati sebagaimana yang telah dijalankan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.
Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak, sebagai Tradisi yang terus dipertahankan oleh masyarakat Demak. (Sifra & Totok)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s